
Nyanyian hari ini
Hari ini begitu mendung, semendung perasaanku mengungkapkan akan suatu cerita indah yang terjadi padanya. Apa yang akan aku ungkapkan, apa yang aku jelaskan, dan apa yang akan aku sampaikan akan terus mengalir dari mulutku sampai penuh busa, tak lelah dan tak bosan aku menguraikannya. Penuh semangat dan bergairah selalu saat kebahagiaan dan kesedihan yang menimpa, aku tak mungkin menghapus darinya. Bingung aku mengalaminya, apa yang harus aku lakukan untuk bisa membuka suatu kehidupan yang penuh asa, kehidupan yang terus berjalan, dan kehidupan yang di dambakan oleh para penanggung kehidupan yang selalu ada dalam jiwanya.
Penat dan bosan saat teringat sore kemarin, sesak dan panas menjalari seluruh darah, tulang, dan jiwaku. Berjalan aku mengejar angin yang terus mengejekku akan kejadian yang membuatku gemas, lelucon pagi hari tadi yang membuka hariku dan mengiringi sedikit perjalananku untuk mencari jati diri ini. Jati diri yang telah lama ia nanti untuk bisa meneruskan impian nya.
Bodoh? Bodohkah aku? Atau aku hanya bernafas melalui halusinasi yang selalu mengikutiku untuk tetap bisa tertawa, tersenyum, dan berbahagia menyambutnya? Seakan mataharipun selalu memberiku semangat dan nafsu yang selalu membuatku tetap menapaki tanah menuju...... ah tak semudah itu!
Semua mengejekku, menekanku, dan mendorongku ke belakang, menjauh dari hidupku. Apa yang akan aku lakukan? Semua sepihak, tak menimbang perasaanku, aku pun seakan ingin terbang dan hinggap pada pohon yang setiap saat bisa menyalurkan sayang, kasih, pada ranting yang lemah dan kering.
Keraguan selalu ada di depan sambil terus tertawa, tak bisa mengelak aku menerimanya walo kadang mungkin lebih sering terpaksa yang ada di dada. Berpikir? Buat apa juga, toh tak ada gunanya menunggu perubahan yang di inginkan dan didambakan. Perasaan ini selalu terhalang oleh jiwa yang tak tentu dan tak pasti, tak ada tujuan, tak ada rasa menyelimuti, dan tak ada rasa-rasa yang lain yang selalu mengambang diatas daun yang hanyut terbawa air.
Mungkinkah jelmaan-jelmaan perasaan mampu menahan jiwa dan diri ini? Tak semudah itu tangan-tangannya dibalik, selalu berat dan tak berarah yang membuat runyam keadaan. Tak ragu aku menampik dan membantah apa yang mungkin menjadi salah satu aturannya selama ini. Sambil terus berlari dari jeratan yang menghalang, aku mencari pohon yang menunggu di jembatan hati.
Bantu aku mengusir sepi, melepas keraguan akan perasaan yang menjadi duri menyelimuti jiwa ini, menjadi penyakit yang mungkin belum ditemukan obatnya. Aku tak bisa sendiri, aku tak bisa berlari, hanya menari dan berjalan kaki, perlahan aku mulai melepaskan diri dan tak ingin terjerat dalam situasi yang bodoh, yang konyol, dan tak pernah aku bayangkan sama sekali seperti ini....
Selamat datang hidup yang sedikit tak berarti menjadi racun untuk darahku yang mungkin hanya mengalir saat ini. Berharap sembuh dari semua ini, aku tak mau lagi, aku ingin berteriak sekeras hati agar tak salah lagi memilih tikungan dan liukan jalan yang ada untuk para kaki yang tak lelah dan tak capai melangkah.
Hari ini begitu mendung, semendung perasaanku mengungkapkan akan suatu cerita indah yang terjadi padanya. Apa yang akan aku ungkapkan, apa yang aku jelaskan, dan apa yang akan aku sampaikan akan terus mengalir dari mulutku sampai penuh busa, tak lelah dan tak bosan aku menguraikannya. Penuh semangat dan bergairah selalu saat kebahagiaan dan kesedihan yang menimpa, aku tak mungkin menghapus darinya. Bingung aku mengalaminya, apa yang harus aku lakukan untuk bisa membuka suatu kehidupan yang penuh asa, kehidupan yang terus berjalan, dan kehidupan yang di dambakan oleh para penanggung kehidupan yang selalu ada dalam jiwanya.
Penat dan bosan saat teringat sore kemarin, sesak dan panas menjalari seluruh darah, tulang, dan jiwaku. Berjalan aku mengejar angin yang terus mengejekku akan kejadian yang membuatku gemas, lelucon pagi hari tadi yang membuka hariku dan mengiringi sedikit perjalananku untuk mencari jati diri ini. Jati diri yang telah lama ia nanti untuk bisa meneruskan impian nya.
Bodoh? Bodohkah aku? Atau aku hanya bernafas melalui halusinasi yang selalu mengikutiku untuk tetap bisa tertawa, tersenyum, dan berbahagia menyambutnya? Seakan mataharipun selalu memberiku semangat dan nafsu yang selalu membuatku tetap menapaki tanah menuju...... ah tak semudah itu!
Semua mengejekku, menekanku, dan mendorongku ke belakang, menjauh dari hidupku. Apa yang akan aku lakukan? Semua sepihak, tak menimbang perasaanku, aku pun seakan ingin terbang dan hinggap pada pohon yang setiap saat bisa menyalurkan sayang, kasih, pada ranting yang lemah dan kering.
Keraguan selalu ada di depan sambil terus tertawa, tak bisa mengelak aku menerimanya walo kadang mungkin lebih sering terpaksa yang ada di dada. Berpikir? Buat apa juga, toh tak ada gunanya menunggu perubahan yang di inginkan dan didambakan. Perasaan ini selalu terhalang oleh jiwa yang tak tentu dan tak pasti, tak ada tujuan, tak ada rasa menyelimuti, dan tak ada rasa-rasa yang lain yang selalu mengambang diatas daun yang hanyut terbawa air.
Mungkinkah jelmaan-jelmaan perasaan mampu menahan jiwa dan diri ini? Tak semudah itu tangan-tangannya dibalik, selalu berat dan tak berarah yang membuat runyam keadaan. Tak ragu aku menampik dan membantah apa yang mungkin menjadi salah satu aturannya selama ini. Sambil terus berlari dari jeratan yang menghalang, aku mencari pohon yang menunggu di jembatan hati.
Bantu aku mengusir sepi, melepas keraguan akan perasaan yang menjadi duri menyelimuti jiwa ini, menjadi penyakit yang mungkin belum ditemukan obatnya. Aku tak bisa sendiri, aku tak bisa berlari, hanya menari dan berjalan kaki, perlahan aku mulai melepaskan diri dan tak ingin terjerat dalam situasi yang bodoh, yang konyol, dan tak pernah aku bayangkan sama sekali seperti ini....
Selamat datang hidup yang sedikit tak berarti menjadi racun untuk darahku yang mungkin hanya mengalir saat ini. Berharap sembuh dari semua ini, aku tak mau lagi, aku ingin berteriak sekeras hati agar tak salah lagi memilih tikungan dan liukan jalan yang ada untuk para kaki yang tak lelah dan tak capai melangkah.
mary teteup uye
Kos, 19 sept 2007
15.55 wib
Kos, 19 sept 2007
15.55 wib
